/***************************************** Anti Copy ******************************************/
Belajar Memang Membuat Lelah,
Namun Jika Tidak Pernah Belajar,
Maka Suatu Hari Nanti Hidup Kita Akan Jauh Lebih Melelahkan
WHAT'S NEW?
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Instalasi Motor Listrik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Instalasi Motor Listrik. Tampilkan semua postingan


MCB atau kepanjangan dari Miniatur Circuit Breaker. MCB merupakan komponen kelistrikan yang bertugas untuk memutus aliran listrik ketika terjadi arus berlebih ataupun konsleting. Komponen ini berfungsi sebagai sistem proteksi dalam instalasi listrik bila terjadi beban lebih dan hubungan singkat arus listri (short circuit atau korsleting). Pemutusan alur listrik dilakukan secara otomatis dan ditujukan untuk memberi keamanan terhadap pemakai listrik dirumah, kantor maupun tempat lainnya.



Pada instalasi listrik yang menggunakan KWHmeter dari PLN, tentunya sudah dilengkapi dengan MCB. Penggunaan MCB ini sama persis seperti yang ada pada Sekring (Fuse) sebagai komponen keamanan listrik. Perbedaannya adalah di Sekring ketika terjadi beban berlebih atau konslet maka aliran daya akan diputus dan otomatis Sekring diganti dengan yang baru, sedangkan pada MCB bisa diaktifkan lagi setelah masalah sudah diatasi.

A.    FUNGSI MCB

Terdapat 3 fungsi utama MCB (Miniatur Cisrcuit Breaker) yakni untuk pemutus arus, proteksi terhadap beban lebih (overload) serta untuk memproteksi adanya hubung singkat (konsleting). Untuk penjelasannya masing – masing dapat disimak dibawah ini :

1.      Sebagai Pemutus Arus



 

Fungsi sebagai pemutus arus bisa diartikan sebagai bentuk pengamanan atau kendali dari pemilik rumah. Sebagai bentuk keamanan ketika terjadi masalah pada instalasi listrik maka MCB akan memutuskan arus secara otomatis. Sedangkan bentuk kendali dari pemilik rumah adalah ketika anda ingin mematikan aliran tidak hanya pada satu titik melainkan pada semua jaringan yang terhubung maka bisa dengan menurunkan toggle switch pada MCB.

Seringkali pada satu instalasi rumah atau bangunan melibatkan lebih dari 1 MCB, oleh karena itu pahami alur instalasi listrik yang ada pada tempat anda untuk menghindari kesalahan ketika mematikan arus secara manual.

2.      Memproteksi adanya beban lebih (overload)





 

Overload atau beban lebih adalah suatu kejadian ketika penggunaan arus listrik melebihi batas penggunaan listrik pada bangunan yang ditempati. Komponen dari MCB yang bertugas mendeteksi adanya beban lebih adalah pada elemen bimetalnya.

Contohnya ketika suatu ruangan atau rumah menggunakan MCB dengan batas arus 6A maka seharusnya penggnaan listrik yang diperbolehkan tidak boleh lebih dari 6A. Untuk instalasi penerangan mungkin masih terkendali akan tetapi untuk instalasi tenaga (stop kontak) biasanya sering dilalaikan.

Ketika anda menancapkan komponen elektronika dengan daya tinggi sehingga membuat arus naik menjadi 7A maka elemen bimetal pada MCB akan melengkung karena terkena panas lebih dan otomatis mematikan kontak MCB sehingga terjadilah Trip atau pemutusan arus.

3.      Memproteksi adanya hubung singkat (konsleting)

Konsleting atau hubung singkat adalah salah satu penyebab kebakaran tertinggi pada bangunan, oleh karena itu penggunaan MCB sangatlah penting untuk mencegah terjadinya hal itu. Untuk fungsi proteksi hubung singkat ini komponen MCB yang bertugas untuk mendeteksi adalah Magnetic Trip yang berupa Solenoid.

Sama seperti beban lebih, komponen ini bereaksi akibat panas yang diterima namun pada kasus hubung singkat panas yang masuk sangat tinggi. Besarnya panas yang diterima akan menimbulkan adanya gaya magnet pada Solenoid dan otomatis menarik switch sehingga aliran listrik terputus.

Jika pada kasus hubung singkat bimetal melengkung dengan adanya jeda waktu maka di konsleting ini Magnetic Trip akan bereaksi dengan sangat cepat. Tujuannya untuk memperkecil resiko kerusakan pada komponen dan terjadinya kebakaran yang sempat kami bahas sebelumnya.

B.    CARA KERJA MCB

Untuk cara kerja MCB sebenarnya sudah sedikit disinggung ketika kita membahas fungsi MCB sebelumnya. Pada dasarnya MCB memang dapat dioperasikan secara manual dengan menekan toggle switch kebawah untuk mematikan dan keatas untuk menghidupkan. Selain itu MCB menggunakan dua prinsip kerja untuk keamanan otomatisnya, yakni dengan Thermal Tripping (pemutusan arus karena reaksi panas) dan Magnetic Tripping (pemutusan arus karena efek gaya magnet). Masing – masing prinsip kerja dilakukan berdasarkan gangguan yang terjadi. Ketika overload atau beban berlebih maka MCB menggunakan prinsip kerja Thermal Tripping sedangkan ketika hubung singkat atau konsleting listrik maka MCB menerapkan prinsip kerja Magnetic Tripping.

C.    MACAM-MACAM MCB



Jika dibedakan menurut ketahanan arusnya terdapat banyak jenis MCB mulai dari 6A, 10A, 13A, 16A, 20A, 25A, 32A, 40A, 50A, 63A, 80A, 100A dan paling tinggi 125A. Sedangkan menurut karakteristik pemutusan arusnya komponen MCB terbagi menjadi 3 jenis yakni MCB tipe B, tipe C dan tipe D. Untuk penjelasannya adalah sebagai berikut :

1.      MCB tipe B memiliki ketahanan listrik lebih besar antara 3 hingga 5 kali dari arus maksimum yang tertulis. Contohnya apabila tertulis 6A maka ketahanannya tidak lebih dari 18A, berlaku untuk perhitungan tipe lainnya. MCB jenis ini biasanya ditemui di area rumah ataupun industry ringan.

2.      MCB tipe C akan memutus arus ketika beban lebih besar 5 hingga 10 kali dari arus maksimum yang ditulis. Jenis ini biasanya ditemui pada penerangan gedung yang memakan banyak titik serta pada motor listrik dengan arus sedang.

3.      MCB tipe D adalah yang paling besar ketahanannya, yakni ketika arus lebih besar 10 hingga 25 kali dari batas maksimum yang ditulis. MCB tipe ini ditemui pada rangkaian yang memiliki lonjakan listrik besar ketika awal pemakaian, seperti pada motor listrik yang berdaya besar, mesin produksi pabrik, mesin sinar X-Ray dan lain – lain.

 


 


Motor Listrik adalah alat yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik, motor listrik ini penggunaannya paling di butuhkan dalam dunia industri dan paling banyak menimbulkan goncangan tegangan ( flicker ). Agar dapat meminimalisir goncangan tegangan maka kita harus mengetahui diantaranya teknik pengasutan motor listrik.

Pengasutan motor induksi adalah cara menjalankan pertama kali motor, tujuannya agar arus starting kecil dan drop tegangan masih dalam batas toleransi.

Ada beberapa cara teknik pengasutan, di antaranya:

1.    Hubungan langsung (Direct On Line = DOL)

Starting dengan metoda ini menggunakan tegangan jala-jala / line penuh yang dihubungkan langsung ke terminal motor melalui rangkaia pengendali mekanik atau dengan relay kontaktor magnit. Biasanya dilakukan bila motor adalah motor dengan daya kecil.




Arus starting sekitar 4 sampai 8 kali arus nominal. Dan torsi awal sekitar 0,5 – 1,5 torsi nominal. Tidak dianjurkan bila starting lebih dari 10 detik mengingat arus starting yang sangat besar.

 

2.    Tahanan depan Stator (Primary Resistor)

Starting dengan menggunakan tahanan primer adalah suatu cara menurunkan tegangan yang masuk ke motor melalui tahanan yang disebut tahanan primer karena tahanan ini terhubung pada sisi stator. Hal ini menggunakan prinsip tegangan jatuh.

 



 

Untuk start kita menggunakan kontaktor 1 yang di seri dengan resistans untuk mengurangi arus awal, setelah putaran lebih lancar, gunakan kontaktor 2 dan matikan kontaktor 1 agar arus tidak melewati resistans. Metode ini banyak digunakan untuk motor dengan daya kecil.

3.    Autotransformator

Prinsipnya sama dengan menggunakan tahanan primer namun digantikan dengan traffo otomatis yang akan mengatur tegangan start dari motor. Setelah beberapa saat motor dipercepat, transformator diputuskan dari rangkaian dan motor terhubung langsung pada tegangan penuh.

 

4.    Segitiga-Bintang (Star-Delta)

Metode starting Y – ∆ banyak digunakan untuk menjalankan motor induksi rotor sangkar yang mempunyai daya di atas 5 kW (atau sekitar 7 HP). Untuk menjalankan motor dapat dipilih starter yang umum dipakai antara lain : saklar rotari Y – ∆, saklar khusus Y- ∆ atau dapat juga menggunakan beberapa kontaktor magnit beserta kelengkapannya yang dirancang khusus untuk rangkaian starter Y – ∆. Arus starting sekitar 1,8 sampai 2,6 kali arus nominal. Dan torsi awal sekitar 0,5 torsi nominal.




5.    Tahanan Rotor lilit

Metoda lain untuk menurunkan arus starting  adalah dengan menggunakan tahanan (R) yang dihubungkan pada rangkaian rotor. Starting ini hanya dapat dipakai untuk motor induksi motor rotor lilit (motor slip ring), sedangkan untuk motor induksi rotor sangkar hal ini tidak bisa dilakukan.

Motor induksi rotor lilit juga disebut motor induksi cincin geser (slipring), rotornya mempunyai lilitan yang dihubungkan ke tahanan luar. Pada waktu starting, motor dihubungkan dengan tahanan (Rheostat) dengan harga R yang maksimum. Setelah motor running, maka rheostat dihubung singkat.



YUK SUBSCRIBE....



Tipe atau jenis motor listrik yang ada saat ini beraneka ragam jenis dan tipenya. Semua jenis motor listrik yang ada memiliki 2 bagian utama yaitu stator dan rotor, stator adalah bagian motor listrik yang diam dan rotor adalah bagian motor listrik yang bergerak (berputar). Pada dasarnya motor listrik dibedakan dari jenis sumber tegangan kerja yang digunakan. Berdasarkan sumber tegangan kerjanya motor listrik dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu : Motor listrik arus bolak-balik AC (Alternating Current) Motor listrik arus searah DC (Direct Current) Dari 2 jenis motor listrik diatas terdapat varian atau jenis-jenis motor listrik berdasarkan prinsip kerja, konstruksi, operasinya dan karakternya. Dari berbagai jenis motor listrik yang ada dapat dibuat suatu gambar klasifikasi motor listrik sebagai berikut.

 Klasifikasi Jenis Motor Listrik

 



Dari gambar klasifikasi motor listrik diatas dapat dijelaskan secara singkat pengertian dari setiap jenis motor listrik pada gambar klasifikasi diatas sebagai berikut.

 

Motor Listrik Arus Bolak-Balik AC

Motor listrik arus bolak-balik adalah jenis motor listrik yang beroperasi dengan sumber tegangan arus listrik bolak balik (AC, Alternating Current). Motor listrik arus bolak-balik AC ini dapat dibedakan lagi berdasarkan sumber dayanya sebagai berikut.

1.      Motor sinkron, adalah motor AC bekerja pada kecepatan tetap pada sistim frekwensi tertentu. Motor ini memerlukan arus searah (DC) untuk pembangkitan daya dan memiliki torque awal yang rendah, dan oleh karena itu motor sinkron cocok untuk penggunaan awal dengan beban rendah, seperti kompresor udara, perubahan frekwensi dan generator motor. Motor sinkron mampu untuk memperbaiki faktor daya sistim, sehingga sering digunakan pada sistim yang menggunakan banyak listrik.

2.      Motor induksi, merupakan motor listrik AC yang bekerja berdasarkan induksi meda magnet antara rotor dan stator. Motor induksi dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama sebagai berikut :

 

a.      Motor induksi satu fase, motor ini hanya memiliki satu gulungan stator, beroperasi dengan pasokan daya satu fase, memiliki sebuah rotor kandang tupai, dan memerlukan sebuah alat untuk menghidupkan motornya. Sejauh ini motor ini merupakan jenis motor yang paling umum digunakan dalam peralatan rumah tangga, seperti fan angin, mesin cuci dan pengering pakaian, dan untuk penggunaan hingga 3 sampai 4 Hp.

b.      Motor induksi tiga fase, medan magnet yang berputar dihasilkan oleh pasokan tiga fase yang seimbang. Motor tersebut memiliki kemampuan daya yang tinggi, dapat memiliki kandang tupai atau gulungan rotor (walaupun 90% memiliki rotor kandang tupai); dan penyalaan sendiri. Diperkirakan bahwa sekitar 70% motor di industri menggunakan jenis ini, sebagai contoh, pompa, kompresor, belt conveyor, jaringan listrik , dan grinder. Tersedia dalam ukuran 1/3 hingga ratusan Hp.

 

Motor Listrik Arus Searah DC

Motor listrik arus searah adalah jenis motor listrik yang beroperasi dengan sumber tegangan arus listrik searah (DC, Direct Current). Motor listrik arus searah DC ini dapat dibedakan lagi berdasarkan sumber dayanya sebagai berikut.

1. Motor DC sumber daya terpisah/ Separately Excited. Adalah jenis motor DC yang sumber arus medan disupply dari sumber terpisah, sehingga motor listrik DC ini disebut motor DC sumber daya terpisah (separately excited).

2. Motor DC sumber daya sendiri/ Self Excited. Adalah jenis motor DC yang sumber arus medan disupply dari sumber yang sama dengan kumparan motor listrik, sehingga motor listrik DC ini disebut motor DC sumber dayasendiri (self excited).

 

Motor DC sumber daya sendiri / self exited ini dibedakan lagi menjadi 3 jenis berdasarkan konfigurasi supply medan dengan kumparan motornya sebagai berikut.

  •  Motor DC shunt, Pada motor DC shunt gulungan medan (medan shunt) disambungkan secara paralel dengan gulungan motor listrik. Oleh karena itu total arus dalam jalur merupakan penjumlahan arus medan dan arus dinamo.
  • Motor DC Seri, Pada motor DC seri, gulungan medan (medan shunt) dihubungkan secara seri dengan gulungan kumparan motor (A). Oleh karena itu, arus medan sama dengan arus dinamo.
  • Motor DC Kompon/Gabungan, Motor Kompon DC merupakan gabungan motor seri dan shunt. Pada motor kompon, gulungan medan (medan shunt) dihubungkan secara paralel dan seri dengan gulungan motor listrik. Sehingga, motor kompon memiliki torque penyalaan awal yang bagus dan kecepatan yang stabil. 

 

Apakah kalaian sudah pernah lihat motor listrik? Yang ada di rumah kalian itu juga menggunakan motor listrik. Seperti Kipas angin, blender, mixer, pompa air (sanyo) dll.

Di Era 1.0 penggerak-penggerak masih menggunakan penggerak manual yang menggunakan bahan baku yang di bakar. Di Era industri 4.0 penggerak-penggerak menggunakan motor-motor yang bekerja menggunkaan listrik. Dari motor yang kecil-kecil hingga yang besar-besar yang menggunakan power atau daya besar.

Motor yang digunakan di industri berbeda dengan yang ada di rumah kita. Sebagai contoh pompa air, di era 1.0 masih menggunakan timba, di era sekarang menggunakan pompa air. Di rumah kita juga menggunakan kipas aing, blender dll.

Motor di rumah kita menggunakan sumber listrik 1 fasa (1 fase dan 1 netral) yang di huungkan ke motor, sumber 1 fase memiliki tegangan antara fase dengan netral adalah 220 V. Jika di industri menggunakan motor-motor yang bersumber 3 fase. Sumber 3 fase memiliki tegangan antar fase (fase R dan S, atau fase R dan T, atau fase S dan T) adalah 380 V. Untuk pelabelan ada yang menyebutkan L1, L2, dan L3, ada juga yang menyebut R, S, T.

Gambar line 3 fase dilengkapi keterngan tegangan antar line dan warna kabel serta penamaan line (L1, L2 dan L3 ata R, S, T). Di lengkapi netral yang mana tengan antara fase to netral adalah 220 V.

Menjelaskan hubungan motor Bintang dan Seitiga.